Deskripsi
Di tengah derasnya arus modernisasi dan semakin samar pemahaman generasi muda terhadap makna tradisi, penting untuk menggali kembali nilai-nilai luhur, terutama yang berkaitan dengan pendidikan Islam. Minimnya buku sebagai sumber literatur yang menyoroti aspek ini menjadi alasan utama dilakukannya penulisan buku ini. Tradisi Yasa Peksi Burak dilaksanakan setiap tanggal 26 Rajab sebagai bentuk peringatan peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw. yang jatuh pada tanggal 27 Rajab. Buku ini dilatarbelakangi oleh pentingnya pelestarian tradisi budaya yang mengandung nilai-nilai keislaman, khususnya dalam konteks Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Tujuan penulis mempublikasikan buku ini dengan baik adalah untuk memahami pelaksanaan tradisi Yasa Peksi Burak serta mengungkap nilai-nilai pendidikan Islam yang terkandung di dalamnya. Penulis melakukan pendekatan kualitatif untuk buku ini, seperti etnografi, mengacu pada teori pendidikan Islam menurut Anwar Sirozi. Buku ini sangat penting dan menarik untuk dibaca oleh masyarakat.
Di zaman yang serba cepat ini, siapa yang masih memiliki kepedulian untuk merawat dan melestarikan nilai-nilai luhur serta kekayaan intelektual yang diwariskan oleh nenek moyang kita? Dan siapa yang akan menjadi duta untuk memperkenalkan keindahan dan keunikan budaya Nusantara ke kancah internasional? Bukankah sudah seharusnya kita semua peduli untuk menjaga dan mengembangkan warisan budaya leluhur? Siapa lagi jika bukan kita yang akan memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada dunia?
Meskipun pertanyaan ini terkesan sederhana, jawabannya tidaklah mudah. Tidak semua praktik budaya layak untuk dipertahankan. Tradisi yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan universal, seperti yang merugikan individu atau kelompok, seharusnya ditinggalkan. Contohnya adalah tradisi potong jari sebagai tanda berduka atas meninggalnya anggota keluarga dalam suatu suku di Papua, atau praktik pembunuhan sebagai bentuk kehormatan untuk melindungi martabat keluarga atau kelompok yang dikenal dalam antropologi budaya sebagai “honor killing”. Sebaliknya, tradisi yang mengandung nilai-nilai positif dan memberikan manfaat bagi masyarakat seharusnya kita jaga dan lestarikan sebagai bagian dari warisan budaya kita.[1]
Yasa Peksi Burak adalah warisan budaya keraton yang memiliki struktur pelaksanaan yang sistematis dan makna simbolis yang mendalam. Tradisi ini terdiri dari tiga tahapan utama: (1) pembuatan miniatur Peksi Burak oleh abdi dalem dan keluarga keraton; (2) perarakan miniatur tersebut dari keraton menuju Masjid Gedhe Kauman; dan (3) pengajian Kagungan Dalem yang menjadi puncak spiritual dari rangkaian prosesi. Tradisi ini mencerminkan internalisasi nilai-nilai pendidikan Islam, di antaranya nilai akidah yang dihayati melalui peristiwa Isra’ Mi’raj, nilai ibadah yang tampak dalam doa dan sedekah, serta nilai akhlak yang terlihat dalam sikap tekun, rendah hati, dan semangat gotong royong. Buku ini menunjukkan bahwa pendidikan Islam tidak hanya berlangsung melalui jalur formal, tetapi juga melalui tradisi budaya yang hidup dalam masyarakat dan diwariskan dari generasi ke generasi. Dengan demikian, tradisi Yasa Peksi Burak berperan sebagai media pendidikan karakter yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dengan kearifan budaya lokal.
- Penulis: Dr. Iin Kandedes, M.A.; Farhan Walid Ihsan, S.Pd.
- ISBN: 978-623-08-1986-5
- Halaman: 126
- Ukuran: 15 x 23 cm
- Tahun Terbit: 2025


Review
Belum ada ulasan.