Deskripsi
Mengadaptasi ucapan Bob Dylan dalam tulisannya di buku ini, dapat dikatakan buku ini adalah ungkapan perasaan IDG Palguna yang menyertai dharmaning Guru Besarnya dan yang bertahta di balik Toga Yang Mulia Hakim Konstitusi yang pernah ia sandang. Bob Dylan, seperti disitir oleh Palguna mengungkap bahwa lirik lagunya itu harus dilihat sebagai ungkapan perasaan, bukan pernyataan. Demikian halnya buku ini yang lugas memilih judul, “Jendela-Jendela Suara Hati”
Buku untaian ungkapan perasaan Negarawan dari pulau Dewata ini patut menjadi mata air bagi sesiapa yang haus-rindu kebaikan atau mungkin yang sedang bermasalah dengan persoalan integritas menjalankan swadharma-nya bagi bangsa dan negara terkasih, Republik Indonesia.
I Gede Joni Suhartawan
Warga Dusun Somoragen, Desa Joho, PRAMBANAN.
Bahasa hukum sering kali kaku dan kering, tetapi Jendela-Jendela Suara Hati karya I Gede Dewa Palguna menepis anggapan itu. Dalam buku ini, hukum berbicara dengan rasa—menjadi prosa yang reflektif, hangat, dan sarat nilai kemanusiaan.
Sebagai mantan Hakim Konstitusi dan kini Ketua Dewan Kehormatan MK, Palguna menulis dengan kejernihan intelektual dan kedalaman nurani. Dari Cicero hingga Hatta, ia menautkan nilai universal dengan kegelisahan kebangsaan kita hari ini.
Mengutip William Faulkner, Palguna mengingatkan: “Jangan pernah takut untuk mengutarakan suaramu bagi kejujuran dan kebenaran…”
Buku ini bukan sekadar karya hukum, melainkan suara hati seorang penjaga konstitusi.
Budiman Tanuredjo
Jurnalis, Pendiri MemoBDM
- Penulis: I D.G.Palguna
- ISBN: 978-623-8144-54-9
- Halaman: 426
- Ukuran: 15 x 23 cm
- Tahun Terbit: 2025


Review
Belum ada ulasan.