Deskripsi
Tari galombang merupakan tarian tradisional Minangkabau yang berfungsi untuk menyambut tamu terhormat, sudah berkembang selama empat era, yaitu: era prakemerdekaan, era pascakemerdekaan, era Orde Baru, dan era reformasi. Tulisan ini memfokuskan analisis pada bentuk tari yang berubah sebagai dampak dari perubahan sosial budaya masyarakat Minangkabau. Oleh karena itu, penelusuran dari silek galombang yang berawal dari sasaran silat, di mana anak laki-laki sejak usia tujuh tahun tidak tidur di rumah, mereka akan tidur dan bersosialisasi dengan teman sebaya di surau. Sambil belajar ilmu agama juga belajar ilmu bela diri, yaitu pencak dan silat. Dari aktivitas silat tersebut, berkembang silek galombang. Gerak silat ditarikan bersama-sama dengan jumlah 12–20 orang dalam barisan dua berbanjar ke belakang untuk menyambut guru silat yang datang dari berbagai sasaran ketika lomba silat diadakan.
Tari galombang sempat mati suri di era pascakemerdekaan karena terjadinya Agresi Militer (1947–1948) dan PRRI (1958–1961), berkembang pesat kembali di era Orde Baru. Tarian galombang telah diwujudkan dengan menstrukturkan kembali gerak pencak silat yang dikreatifkan dalam bentuk baru, pada era ini, penglibatan penari perempuan untuk menyambut kedatangan tamu pemerintah dan para wisatawan. Di era reformasi, kreativitas semakin terbuka, kebebasan mengekspresikan ide-ide baru menerusi aliran multikulturalisme dan pluralisme di mana wujud otonomi daerah yang menjadikan kreativitas tarian galombang terarah kepada revitalisasi budaya.
- Penulis: Dra. Nerosti, M.Hum.,Ph.
- ISBN: 978-623-08-1130-2
- Halaman: 278
- Ukuran: 15 x 23 cm
- Tahun Terbit: 2024


Review
Belum ada ulasan.