Tafsir Canduang: Keselarasan Batin, Akal, dan Perilaku dalam Budaya Minangkabau pada Al-Qaul Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an – Dr. Helfi, M.Ag.

Rp82,000

Stok habis

Deskripsi

Sjech Sulaiman al-Rasuli termasuk ulama karismatik di Minangkabau yang lebih populer dengan panggilan “Inyiak Canduang”. Kepopuleran Beliau terus menjadi perbincangan karena berberapa alasan, pertama, adanya sekolah Madrasah Islamiyah Canduang yang terus menghidupkan ide-ide besar Beliau sejak awal berdiri sampai sekarang. Kedua, banyaknya karya-karya beliau yang tersebar dalam berbagai disiplin ilmu seperti sejarah, kisah, syair, fikih, akidah, buku adat Minangkabau, tarekat, novel, tafsir, dan lain-lain. Total jumlah karya Inyiak Canduang yang terinventarisir hingga sekarang sebanyak 22 karya dengan berbagai disiplin ilmu. Ketiga, kesejarahan Beliau sebagai sosok yang peduli terhadap keislaman, keindonesiaan, dan keminangkabauan. Perjuangan Beliau untuk memerdekakan Indonesia dan mengisi kemerdekaan hingga Beliau sempat diusulkan menjadi pahlawan nasional yang berasal dari Sumatra Barat.

Kepopuleran Beliau dari aspek lain juga dapat ditelusuri dari kecerdasan Beliau di bidang entrepreneurship. Pada masanya, Inyiak Canduang memiliki banyak usaha di samping memiliki banyak tulisan seperti adanya lapau (warung kopi), rumah kontrakan, penggilingan padi, bendi sewaan, termasuk memiliki saham di bank nasional yang tidak banyak dimiliki orang pada waktu itu. Di tahun 1940 ketika masyarakat masih jarang melihat mobil, Inyiak Canduang sudah memiliki mobil sedan opel dan terus dimilikinya hingga akhir hidupnya. Berbagai sumber ekonomi yang dimiliki Inyiak Canduang tidak mengherankan kemudian berbilang istri dan anak-anak yang sukses di berbagai daerah. Dari aspek lain, kepopuleran Beliau juga terdongkrak dari posisi Beliau sebagai golongan tua versus golongan muda yang terus mempertahankan tarekat di Minangkabau.

Di antara karya Inyiak Canduang yang belum terselami secara mendalam adalah di bidang tafsir dengan karya Beliau yang diberi judul al-Qaul al-Bayan fi Tafsir al-Qur’an. Buku tafsir ini mengupas 38 surah yang terdapat dalam Al-Qur’an. Buku tafsir ini ditulis menggunakan bahasa Arab Melayu dalam bentuk bahasa Minangkabau yang sebagiannya tidak lagi populer untuk masa sekarang seperti menumpalak (memarahi), dihasung (dihasut), pengabisan (terakhir), dan lain-lain. Buku tafsir Inyiak Canduang ini juga mengkritisi sosial masyarakat Minang pada waktu itu dengan mengkritik kemenakan yang mengambil harta anak yatim ketika orang tuanya meninggal. Inyiak Canduang setuju bila harta di Minangkabau dibagi menjadi harta pusaka tinggi dan harta pusaka rendah seperti yang didengungkan oleh golongan muda. Beliau juga mengkritik membuat jimat agar kebal terhadap senjata tajam atau untuk tujuan-tujuan yang jahat lainnya dengan menggunakan zikir. Padangan Inyiak Canduang sebagai golongan tua juga dipertemukan dengan pandangan golongan muda yang digawangi oleh Haji Abdul Karim Amrullah terkait dengan isu-isu yang muncul seperti penetapan awal Ramadan, dalil penggunaan tarekat, posisi harta pusaka tinggi di Minangkabau, dan lain-lain. Pandangan Inyiak Canduang dalam tafsir kemudian diperkaya dengan pemikiran Beliau dari beragam sumber dari karya-karya Beliau lainnya.

  • Penulis: Dr. Helfi, M.Ag.
  • ISBN: 978-623-08-2037-3
  • Halaman: 144
  • Ukuran: 15 x 23 cm
  • Tahun Terbit: 2025

Review

Belum ada ulasan.

Be the first to review “Tafsir Canduang: Keselarasan Batin, Akal, dan Perilaku dalam Budaya Minangkabau pada Al-Qaul Al-Bayan fi Tafsir Al-Qur’an – Dr. Helfi, M.Ag.”

Cek Ongkir