Rekam Jejak Mayor Jenderal TNI Soeharto: Dari Makassar Untuk Pembebasan Irian Barat – Rachman Jamal

Rp148,000

Stok habis

, , Product ID: 45800

Deskripsi

Brigjen TNI Soeharto, tokoh kunci dalam Operasi Mandala ditunjuk sebagai Panglima Komando Mandala pada 11 Januari 1962. Pelantikan dilakukan oleh Presiden Soekarno di Istana Bogor pada 13 Januari 1962 dan pangkatnya dinaikkan satu tingkat menjadi Mayor Jenderal (Mayjen). Tugas beliau mempersiapkan pasukan untuk merebut Irian Barat jika jalan diplomasi mengalami kemacetan. Mayjen Soeharto selain bertanggung jawab dalam bidang operasional dan strategi, juga bertanggung jawab pada logistik serta berkedudukan langsung di bawah Panglima Besar Komando Tertinggi pembebasan Irian Barat yang dirangkap oleh Presiden Soekarno.

Operasi Trikora membangkitkan semangat nasionalisme dan kesadaran akan pentingnya mempertahankan dan memperluas wilayah Indonesia. Pembebasan Irian Barat adalah rangkaian peristiwa sejarah yang mencakup upaya diplomatik, politik, dan militer Indonesia untuk mendapatkan kendali penuh atas wilayah yang sebelumnya berada di bawah administrasi Belanda. Sesuai dengan perkembangan situasi Operasi Trikora, diperjelas dengan Instruksi Panglima Besar Komodor Tertinggi Pembebasan Irian Barat No. 1 kepada Panglima Mandala yang isinya: merencanakan, mempersiapkan, dan menyelenggarakan operasi militer dengan tujuan mengembalikan wilayah Irian Barat ke dalam kekuasaan Republik Indonesia.

Soeharto sebagai Panglima Komando Mandala menerapkan strategi militer dalam pembebasan Irian Barat sesuai tenggat waktu yang diberikan. Di mana pada 28 Mei 1962, ia melakukan perubahan Operasi Militer Terbatas (B-2) dengan sasaran Kaimana dan Fakfak diubah menjadi Operasi Militer Terbuka (B-1) dengan sasaran Biak yang diberikan nama sandi Operasi Jayawijaya dengan hari “H” tanggal 12 Agustus 1962. Akhirnya, operasi infiltrasi dari pihak Indonesia berhasil dan Belanda bersedia untuk duduk di meja perundingan guna menyelesaikan sengketa Irian Barat.

Amerika Serikat khawatir konflik antara Indonesia dan Belanda akan mengganggu keamanan di wilayah Asia Tenggara dan Pasifik. Amerika Serikat kemudian mendesak Belanda untuk berunding. Pada 15 Agustus 1962, perundingan antara Indonesia dan Belanda dilaksanakan di Markas Besar PBB di New York. Perundingan ini menghasilkan Persetujuan New York yang berisi tentang:

  1. Penghentian permusuhan.
  2. Paling lambat 1 Oktober 1962, UNTEA (United Nations Temporary Executive Authority) tiba di Irian Barat untuk melakukan serah terima kekuasaan dari pemerintah Belanda. Sejak saat itu, bendera Belanda diturunkan dan diganti dengan bendera PBB.
  3. UNTEA akan memakai tenaga-tenaga Indonesia, baik sipil maupun militer. Tenaga militer digunakan sebagai penjaga keamanan bersama putra Irian Barat sendiri. UNTEA juga akan memakai sisa-sisa pegawai Belanda yang diperlukan.
  4. Pasukan Indonesia tetap tinggal di Irian Barat yang berstatus di bawah UNTEA.
  5. Angkatan Perang Belanda dan pegawai sipilnya berangsur-angsur dipulangkan dan harus selesai paling lambat 11 Mei 1963.
  6. Bendera Indonesia mulai berkibar 31 Desember 1962 di samping bendera PBB.
  7. Pemerintah RI menerima pemerintahan di Irian Barat dari UNTEA pada 1 Mei 1963.
  • Penulis: Rachman Jamal
  • ISBN: xxxx
  • Halaman: 290
  • Ukuran: 15 x 23 cm
  • Tahun Terbit: 2025

Review

Belum ada ulasan.

Be the first to review “Rekam Jejak Mayor Jenderal TNI Soeharto: Dari Makassar Untuk Pembebasan Irian Barat – Rachman Jamal”

Cek Ongkir