Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Untuk Konteks Kekinian – Prof. Dr. Sukron Kamil

Rp147,000

Stok habis

, Product ID: 45525

Deskripsi

Ada berbagai kemungkinan buku daras PAI di PT yang sudah ada selama ini. Paling tidak, ada tiga kemungkinan. Pertama, ada beberapa buku daras PAI di PT yang tidak komprehensif pembahasannya. Padahal, al-Qur’an (QS. al-Baqarah/2: 208) secara harfiah bilang, masuklah ke dalam Islam secara kâffah (menyeluruh). Misalnya ada beberapa buku daras PAI atau ada banyak praktik PAI di PT yang menekankan hanya aspek akidah dan ibadah saja sebagai ajaran pokok Islam. Sisi akhlak, tasawuf, dan sisi sosial Islam tak terbahas. Kalaupun terbahas, hanya sedikit, tak terbahas dengan baik. Padahal, ini penting untuk hidup mahasiswa peserta didik sebagai calon pemimpin bangsa ke depan. Apalagi, soal akhlak/integritas, dimana Nabi diutus, karena untuk menyempurnakan integritas/moralitas manusia, sebagaimana yang dibahas dalam sebagian isi buku ini. Apalagi kunci kedigjayaan suatu kelompok sosial, umat dan bangsa adalah ilmu pengetahuan/iptek dan integritas. Mungkin saja, ketersediaan waktu dalam proses pembelajaran mungkin berpengaruh. Tentu saja keterbatasan wawasan penulisnya juga ikut berpengaruh, terutama kuatnya perspektif fikih dan akidah yang identik dengan agama Islam. Maka, kiai/ustaz pun kadang datang dengan membawa halal dan haram semata, dan kajian terbesar tesis dan disertasi di UIN Jakarta mislanya, apalagi pada periode pra Reformasi adalah kajian fikih.

Kedua, tak punya kedalaman/kritisisme. Kajian fikih ibadah misalnya hanya deskriptif. Hanya aturan mengenai aturan ibadah. Tak dibahas misalnya apa hikmah/tujuan/filosofis di balik wudhu dan salat misalnya. Padahal, semua ibadah dalam Islam simbolik, tak sebagai tujuan dalam dirinya sendiri. Salat misalnya agar pelakunya bisa menjaga diri dari perbuatan keji dan munkar, sebagaimana disebut QS. al-‘Ankabut/29: 45. Wajar jika ada fenomena orang yang “salat yes, tetapi korupsi juga yes”, suatu paradoks. Juga puasa agar pelakunya selama 11 bulan tersisa dalam setahun ia hidup bisa berintegritas (bertakwa), membesarkan Allah (selain Allah harus dipandang tak lebih sebagai hamba/makhluk Allah semata yang tak boleh disakralkan, uang sekalipun), agar mampu bersyukur, terhadap nikmat yang tak besar sekalipun, dan agar dekat sedekat mungkin dengan Allah (QS. al-Baqarah/183-186). Maka, sebagian buku daras PAI di PT pun sifatnya daur ulang, atau dalam bahasa studi Islam hanya berbasis metode penulisan matan (teks yang ringkas) dan syarah/analisis yang panjang berbasis matan atau sebaliknya. Buku daras PAI di PT kurang berbasis pertanyaan seperti mengapa. Misalnya, tak membahas mengapa manusia hidup dan apa hubungannya dengan kepercayaan terhadap adanya kehidupan setelah kematian (akhirat)? Juga tak membahas, mengapa dalam Islam kadar zakat pertanian yang harus 5 atau 10% (sama dengan perpuluhan dalam agama Kristiani) yang lebih besar ketimbang zakat perdagangan yang kadarnya hanya 2,5%?

Tentu saja, ini problematis. Alasannya karena, jika diukur dengan keterampilan berpikir tingkat tinggi, pendidikan di Indonesia, termasuk di perguruan tingginya dan juga dalam proses/praktik PAI, problematis (masih rendah), sebagaimana nanti akan diuraikan di bab I, pendahuluan. Keterampilan berpikir tingkat tinggi yang dalam masyarakat Indonesia masih lemah itu adalah: C4: keterampilan menganalisis (analysing), C5: mengevaluasi (evaluating), dan C6: mencipta/mengkreasi (creating).

Ketiga, buku daras PAI di PT tak menarik. Salah satunya bisa dirujuk dari pernyataan Rektor ITK (Institut Teknologi Kalimantan), Prof. Budi Santoso Purwokartiko yang ramai di media massa dan medsos belum lama ini. Salah satu postingan di medsosnya adalah, saat dirinya kuliah S3 sering membaca tafsir al-Qur’an, tetapi ia menyebut: “Kitab suci (al-Qur’an) kebanyakan isinya dongeng jaman dulu. Jadi, saya lebih suka baca sains atau berita terkini untuk menambah wawasan”. Agaknya, pernyataan Prof. Budi Santoso Purwokartiko ini terlait buku-buku studi Islam seperti tafsir (buku daras PAI di PT) tak kontekstual. Ilustrasinya untuk menjawab problem kekinian masih kurang. Kurang terkait dengan isu/dan masalah kekinian yang menimpa umat manusia dan ini berarti penulisan buku daras PAI di PT kurang berbasis hasil riset mutakhir. Dalam bahasa para siswa SMA 2 Bandung, saat penulis melakukan riset PAI di sana pada dekade 2000-an, alumni PGA (Pendidikan Guru Agama) atau PAI UIN/IAIN saat menguraikan Islam berisi parade ayat dan hadis, kurang ulustrasi-ilustrasi/kontekstualisasi yang menarik pikiran dan hati. Mereka lebih tertarik dengan dengan ceramah/penjelasan Islam alumni non PGA atau UIN/IAIN yang sebaliknya, meski disampaikan seniornya yang menyampaikan tutorial Islam dalam kelembagaan kerohanian sekolah yang sesungguhnya ilmunya tak memadai. Tentu saja ini debatable, karena itu berarti juga mereka mudah disusupi oleh kalangan Islam yang tak moderat juga, besar atau kecil, karena bisa jadi yang disampaikan tutor yang juga senior mereka bukan standar Islam. Dalam konteks ini, tentu saja ini harus dikecualikan mereka dengan latar belakang studi Islam yang baik yang mampu melakukan ilustrasi dan kontekstualisasi Islam seperti KH. Zainuddin MZ, alumni UIN Jakarta, dan juga UAS (Ustaz Abdul Somad), alumni UIN Riau dan salah satu universitas Islam Maroko.

Misalnya, saat mengkaji/menyampaikan topik ‘iddah dalam Islam tak dikaitkan dengan kodrat keperempuanan. Iddah adalah masa menunggu bagi seorang istri yang dicerai untuk bisa menikah lagi dengan yang lain. Hasil riset Robert Guilhem dari Albert Einstain College terhadap ‘iddah dalam Islam misalnya lupat dibahas. Riset ini memperlihatkan betapa Islam menekankan keadilan jender/feminisme moderat sebagai pemihakannya, dimana tuntutan keadilan jender/feminisme hanya berlaku dalam wilayah kultural saja, yang tidak berlaku dalam wilayah kodrati/natural, sebagaimana akan diuraikan di bagian dalam buku ini. Temuannya antara lain bahwa laki-laki yang berhubungan seksual dengan seorang perempuan meninggalkan rekam jejak pada rahim perempuannya dan baru akan hilang dalam 3 bulan secara bertahap. ‘Iddah untuk menampakkan kesucian perempuan dari perselingkuhan/perzinahan seorang istri dengan yang lain.

Ini berari juga buku daras PAI di PT selama ini kurang punya perdebatan, kurang terintegrasi dengan ilmu kemodernan. Padahal, tujuan didirikannya UIN/PT yang berbasis ormas Islam adalah untuk menciptakan ulama yang intelektual/ilmuan dan intelektual/ilmuan yang ulama. Misalnya benarkah secara ilmiah pernyataan Karl Marx dan Freud yang ateis dan apa pandangan Islam? Apakah Islam cenderung pada sistem ekonomi kapitalisme atau sosialisme atau berada di antara karang keduanya (ekonomi campuran/welfare state)?

Lebih susah lagi mengharapkan buku daras PAI di PT yang punya kebaruan/orisinalitas kajian. Yang dimaksud baru ini tentu saja bukan dalam arti bukan baru yang sesungguhnya/absolut, tetapi memiliki sisi-sisi kebaruan. Padahal, nilai riset/kajian ilmu manapun terletak pada kebaruannya. Mengapa disebut lebih susah? Hal ini karena agama dianggap berbasis kepercayaan dan agama dari dulu hingga sekarang sama. Islam misalnya dari abad ke-7 hingga saat ini sama, karena al-Qur’an dan hadisnya juga sama. Kalau ada ajaran baru berarti dinilai mengada-ada alias bid’ah dan itu berarti berbohong kepada Allah dan Rasulnya. Pernyataan seperti itu tentu saja benar, tetapi tidak seluruhnya benar dalam kasus tertentu. Dalam Islam, memang ada wilayah ushûl (prinsip) yang tak berubah, sesuai al-Qur’an, hadis, dan kesepakatan ulama (ijmâ’). Namun, dalam Islam juga ada wilayah fu’rû’ (cabang) yang tak prinsipil, yang bisa berbeda antara satu mazhab dengan mazhab lainnya, dimana perbedaan itu dalam salah satu hadis Nabi disebut sebagai rahmat. Misalnya soal salat subuh dengan melakukan qunût atau tidak. Qunut adalah ritual doa dengan menengadahkan tangan setelah ruku kedua dalam salat Subuh. Bahkan, dalam Islam ada pelaksanaan sebuah ajaran yang pelaksanaan disesuaikan dengan adat istiadat/kultural seperti cara menutup aurat baik bagi seorang laki-laki Muslim maupun perempuan yang bisa pashionable, atau bahkan mengenakan pakaian nasional seperti di Nusantara mengenakan batik.

  • Penulis: Prof. Dr. Sukron Kamil
  • ISBN: 978-623-08-1558-4
  • Halaman: 358
  • Ukuran: 15 x 23 cm
  • Tahun Terbit: 2025

Review

Belum ada ulasan.

Be the first to review “Pendidikan Agama Islam di Perguruan Tinggi Untuk Konteks Kekinian – Prof. Dr. Sukron Kamil”

Cek Ongkir