Deskripsi
Muhammadiyah dan NU sebagai dua sayap bangsa dengan ideologi moderat (wasathiyah) diakui sebagai benteng Islam khas Indonesia yang kerap kali diberi julukan “moslem with smiling face”, belakangan ini mulai terusik dengan fenomena hijrahnya sejumlah anggotanya menuju ormas lain yang dikalim lebih syar’i. “Fenomena ini ditambah pula dengan adanya fakta maraknya lembaga pendidikan keagamaan Islam urban yang tidak kompromi dengan Pancasila dan tradisi Indonesia. Tampaknya, ajaran “aswaja” yang selama ini menjadi acuan utama mengenai moderasi di pesantren NU dan konsep “pemurnian dan tajdid” di Pesantren MBS Muhammdiyah, dianggap belum memadai untuk mencegah timbulnya doktrin-doktrin agama yang mendorong pada kekerasan, truth claim dan merasa paling islami. Penulis berkeyakinan bahwa: “Moderasi beragama di kedua ormas jangkar NKRI itu dapat menjaga pemahaman agama agar tidak tergerus dalam ektremisme dan fundamintalisme”. Penguatan moderasi pendidikan keagamaan, khususnya di pesantren yang berafiliasi dengan keduanya, merupakan strategi budaya untuk menjaga keutuhan NKRI dan kerukunan intra dan antarumat beragama. Berangkat dari penjelajahan penulis terhadap berbagai literatur klasik, modern, dan pengalaman impiris berintraksi dengan kaum intelektual selama studi di Kairo, dan menghadiri seminar di Istanbul, Makkah, Madinah, diperkuat dengan kilasan panorama kehidupan santri di sejumlah Pesantren NU dan Muhammadiyah, dapat disimpulkan bahwa: “Model Pendidikan Keagamaan Moderasi”, muatan kurikulumnya, harus lebih fokus lagi pada tiga aspek berikut. Pertama, pemahaman “integrative sains dan agama” dalam memahami teks-teks Alquran dan hadits. Artinya dalam menelaah kedua sumber itu harus dipandang dari engle ilmu-ilmu yang terkait langsung dengan teks-teks tersebut, seperti bahasa Arab dan kaidah fiqih dan usul fiqih, ilmu Alquran, dan ilmu hadits, selain itu, pemahaman pada keduanya harus ditinjau dari sudut sains dan realitas nyata kehidupan manusia. Kedua, penanaman sikap “maslahah ammah”, dengan cara mengedepan sifat mahabbah baik dengan intra agama maupun antarumat beragama, dan meletakkan kepentingan public diatas kepentigan individu, dan kelompoknya. Ketiga, penguatan tindakan “husnul muamalah” dengan mengedepankan hidup damai dan rukun bisa berkolaborasi dengan siapapun tanpa memandang latar belakang agama, suku, dan budaya. Wallahu A’lam.
- Penulis: Dr. Abdul Hadi, M.Ed.
- ISBN: xxxx
- Halaman: 272
- Ukuran: 15 x 23 cm
- Tahun Terbit: 2025


Review
Belum ada ulasan.