Deskripsi
Buku ini mengangkat kekayaan nilai-nilai Pancasila yang hidup dan berakar kuat dalam kebudayaan lokal masyarakat Indonesia, khususnya melalui dua simbol budaya besar: Huma Betang dari Kalimantan Tengah dan Rumah Gadang dari Sumatra Barat. Kedua rumah adat ini tidak hanya mencerminkan warisan arsitektur dan tradisi leluhur, tetapi juga menjadi refleksi nyata dari nilai-nilai yang membentuk jati diri bangsa. Melalui pendekatan kualitatif dan studi lapangan, buku ini menelusuri bagaimana nilai Ketuhanan Yang Maha Esa tercermin dalam penghormatan masyarakat terhadap alam, leluhur, dan ritual-ritual spiritual. Baik di Huma Betang maupun Rumah Gadang, hubungan manusia dengan Tuhan dan alam semesta menjadi bagian integral dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai kemanusiaan yang adil dan beradab juga tampak jelas dalam praktik gotong royong, saling menghormati, dan keadilan sosial yang dijalankan oleh masyarakat adat. Dalam komunitas Huma Betang, kehidupan komunal menjadi ruang pendidikan sosial dan etika. Sementara di Rumah Gadang, nilai kemanusiaan ditanamkan melalui struktur sosial yang menjaga martabat setiap individu dan kelompok. Nilai persatuan Indonesia terwujud dalam semangat kebersamaan dan keterikatan sosial yang kuat. Di Kalimantan Tengah, Huma Betang menjadi simbol persatuan dalam keberagaman suku dan keyakinan. Sementara di Sumatra Barat, Rumah Gadang memperlihatkan bagaimana nilai persatuan diikat oleh adat yang berlandaskan syariat dan kebijaksanaan turun-temurun. Demokrasi yang berlandaskan hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan menjadi ruh dalam pengambilan keputusan di kedua komunitas. Musyawarah adat menjadi forum utama dalam menyelesaikan persoalan bersama, di mana semua suara dihargai dan keputusan diambil demi kebaikan kolektif. Nilai keadilan sosial hadir dalam sistem pembagian peran, hak, dan kewajiban yang dijalankan secara seimbang. Di Huma Betang, tidak ada diskriminasi; semua orang memiliki hak hidup yang setara dalam rumah besar yang menaungi banyak keluarga. Di Rumah Gadang, keadilan sosial dilandasi oleh sistem adat yang menjamin keseimbangan antar peran dan tanggung jawab dalam keluarga besar.
Buku ini juga menggambarkan persamaan dan perbedaan dalam pengamalan nilai-nilai Pancasila antara Huma Betang dan Rumah Gadang. Keduanya menekankan prinsip musyawarah, kebersamaan, dan keadilan, namun berbeda dalam struktur sosial dan landasan filosofis. Huma Betang menonjolkan pluralisme hukum dan kehidupan kolektif, sedangkan Rumah Gadang mengedepankan nilai religius dan adat yang terorganisir secara ketat. Ditulis dengan narasi yang memadukan analisis budaya dan pengamatan lapangan, buku ini menjadi referensi penting bagi siapa pun yang ingin memahami relevansi Pancasila dalam konteks budaya lokal. Diperuntukkan bagi akademisi, pelajar, peneliti, dan masyarakat luas, buku ini mengajak pembaca untuk menyadari bahwa kekuatan Pancasila terletak bukan hanya pada rumusannya, tetapi pada pengamalannya yang hidup dalam tradisi bangsa Indonesia.
- Penulis: Prof. Dr. H. Ibnu Elmi A. S. Pelu, S.H., M.H.; RezaNoor Ihsan, S.H., M.H.; Jefry Tarantang, S.Sy., S.H., M.H.
- ISBN: 978-623-08-1928-5
- Halaman: 176
- Ukuran: 15 x 23 cm
- Tahun Terbit: 2025


Review
Belum ada ulasan.