Deskripsi
Berbahagiakah manusia ketika teknologi mampu melampaui batas kehidupan, sehingga membebaskannya dari kematian? Hari ini secara teknologis, sangat mudah “menghidupkan” kembali manusia yang telah mati menggunakan deepfake. Jika yang disebut hidup memerlukan beberapa syarat, produk artificial intelligence (AI) ini, mampu memenuhinya.
Zeyi Yang, 2024, dalam “Deepfakes of Your Dead Loved Ones are a Booming Chinese Business”, menguraikan realitasnya. Diceritakan tentang Sun Kai, yang kerap melakukan panggilan video dengan “ibunya”, yang telah wafat 5 tahun sebelumnya. Percakapannya soal pekerjaan, tekanan yang dihadapi, maupun pikiran-pikiran yang bahkan tak dibicarakan dengan istrinya, dilakukan dengan Sang Ibu. Ibunya menanggapi dan memintanya menjaga diri. Komunikasi dengan yang teknologis ini, membangun keterhubungan emosional yang memuaskan.
Kecenderungan penggunaan deepfake seperti di atas, tak hanya untuk keterhubungan emosial domestik. Deepfake telah digunakan di berbagai ranah publik: pemasaran, keuangan, pendidikan, komunikasi sosial maupun ajang politik. Menciptakan immotalitas untuk keperluan publik, bukan mustahil. Bedanya, deepfake untuk ranah publik ini memerlukan kecerdasan yang lebih kompleks: mampu menghasilkan kreativitas, melampaui rutinitas biologis.
Tapi, berbahagiakah manusia ketika teknologi mampu membebaskannya dari kematian? Ini, merupakan perdebatan filosofis yang panjang. Memang kematian adalah keadaan yang menakutkan. Kedatangannya diikuti kesedihan dan rasa kehilangan. Karenanya, banyak upaya dilakukan untuk menolak kematian. Hari ini kematian biologis dilawan dengan menciptakan kehidupan teknologis, lewat deepfake.
Namun ketika kalimat kuncinya: “kematian adalah elemen yang memberi makna kehidupan”, hilangnya batas berupa pembebasan dari kematian, justru menghilangkan makna kehidupan itu sendiri. Manusia mana yang bisa tetap berbahagia, ketika makna kehidupannya sirna? Lewat kematian: mencari, mencipta, mempertahankan, memperjuangkan, justru menemui relevansinya. Demikian juga –mengikuti pikiran Filsuf Nietzche soal Eternal Recurrence –pengulangan abadi– seluruh kehidupan, termasuk momen suka dan dukanya. Seluruhnya akan berulang –juga dalam urutan yang sama– tanpa batas. Apakah immortalitas seperti itu, tidak membosankan?
Jadi ke manakah arah kebahagiaan manusia di hadapan perkembangan teknologi, terlebih deepfake? Membiarkan kematian meringkusnya, atau menghindarinya dengan membangkitkan kehidupan teknologis?
- Penulis: Dr. Firman Kurniawan
- ISBN: xxxx
- Halaman: 296
- Ukuran: 15 x 23 cm
- Tahun Terbit: 2026


Review
Belum ada ulasan.